2026-06-02 HaiPress



JAKARTA, iDoPress – Jalan alternatif yang membentang sepanjang 7,5 kilometer (KM) dari wilayah Cakung, Jakarta Timur, menuju Rorotan, Jakarta Utara, dikenal sebagai area rawan kejahatan jalanan, salah satunya begal.
Aksi begal di jalan tersebut tidak hanya terjadi pada malam hari, tetapi juga siang bolong, ketika jalur tersebut masih aktif dilalui oleh banyak pengendara.
Belum lama, seorang laki-laki pelaku begal diamuk massa karena nekat beraksi siang hari di area BKT Rorotan-Cakung.
Aksi pemukulan terhadap pelaku pelaku begal tersebut direkam oleh warga dan videonya tersebar luas di media sosial Instagram pada 11 Mei 2026.

iDoPress/ SHINTA DWI AYU Jalur BKT Rorotan-Cakung yang kini menjadi lokasi rawan kejahatan jalanan alias begal. Jumat, (29/5/2026).
Namun, tak jarang pelaku pembegalan berhasil melancarkan aksinya dan mengambil barang berharga milik pengendara, bahkan membuat korbannya terluka.
Keberadaan para begal itu tidak hanya membuat resah pengendara, tetapi juga para pedagang yang sehari-hari mengais rezeki di wilayah tersebut.
Salah satunya adalah pedagang kopi dan bensin bernama Saiful (53), yang sudah berjualan selama tiga tahun persis di area BKT Cakung arah Rorotan, tepatnya di samping perumahan elit Metland.
“Iya, rawan begal sih. Lantaran begal itu kan orang di sini jadi kurang nyaman lah,” ucap dia ketika ditemui iDoPress di lokasi, Jumat (29/5/2026).
Maraknya peristiwa begal di wilayah tersebut membuat orang-orang takut untuk melintas karena khawatir menjadi korban.
Padahal, menurut Saiful, taman di samping Perumahan Metland dahulu selalu menjadi tempat favorit para pengendara untuk beristirahat sambil membeli makanan atau minuman dari pedagang kaki lima (PKL) di sekitar lokasi.
Pengunjung kawasan tersebut bukan hanya pengendara yang melintas, tetapi juga warga yang memang datang untuk berwisata kuliner. Biasanya, kawasan ini ramai dikunjungi setiap hari libur, terutama pada malam Sabtu dan Minggu.
Namun, dalam enam bulan terakhir, kawasan tersebut tidak lagi seramai dulu, bahkan saat hari libur.
Berkurangnya jumlah pengunjung maupun pengendara yang melintas membuat dagangan kopi dan bensin eceran milik Saiful menjadi kurang laku.
Saat pertama kali berjualan di kawasan itu, bensin yang berhasil dijualnya bisa mencapai 60 liter per hari. Namun, sejak aksi begal marak terjadi, 60 liter bensin tersebut baru habis setelah beberapa hari.
Pedagang somay, Asep (39), juga merasakan hal serupa. Keberadaan begal di area BKT Rorotan-Cakung turut menggerus pendapatannya.