Rumah Suku cadang mobil Lembaga pendidikan Akal sehat hidup Manajemen hotel peralatan medis Lebih

Ketika Pengkritik Menjadi Anti Kritik

2026-06-17 HaiPress

Anda bisa menjadi kolumnis !

Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Daftar di sini

Kirim artikel

Editor Ferril Dennys

SENIN malam, 15 Juni 2026, Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menjadi panggung drama politik yang menyimpan banyak pertanyaan mendalam.

Bukan sekadar insiden unjuk rasa biasa. Ini adalah cermin retak dari sebuah republik yang sedang berdiri di persimpangan antara janji reformasi dan pragmatisme kekuasaan.

Forum diskusi bertajuk "Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia" yang menghadirkan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko—ketiganya pejabat Kabinet Merah Putih — sejak awal dirancang sebagai ruang dialog antara pemerintah dan mahasiswa.

Ironi pertama sudah terlihat dari sini: dialog digelar oleh para mantan aktivis kepada para aktivis penerus, namun berakhir dengan para pejabat dievakuasi, mobil mereka dikepung mahasiswa, dan teriakan "katanya mau ngajak diskusi, tapi malah kabur" bergema di halaman kampus.

Warisan yang Tak Terselesaikan

Di tengah forum, satu di antara mahasiswa menyebut Budiman Sudjatmiko sebagai "pengkhianat reformasi"— tuduhan yang bukan sekadar makian, melainkan akumulasi kekecewaan generasional yang telah lama menumpuk.

Budiman bukan sembarang pejabat. Ia adalah salah satu tokoh paling ikonik dari gerakan mahasiswa 1998, mantan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang pernah mendekam di balik jeruji rezim Soeharto demi cita-cita yang sama dengan yang kini diteriakkan para pengkritiknya.

Seorang peserta bahkan sempat berkata kepadanya: "Saya mengidolakan Anda dari dulu, tapi Anda mengkhianati kami. Piye, penak 'pa dadi menteri Prabowo? Lali karo rakyat?"

Ini bukan sekadar pergantian loyalitas politik. Ini adalah konfrontasi antara dua versi diri yang sama—satu dari masa lalu, satu dari masa kini.

Budiman menjawab para pengkritiknya dengan menegaskan, "Aku masih seperti Budiman yang dulu. Saya enggak berubah."

Pernyataan ini, betapa pun jujurnya, justru mengandung masalah besar secara retoris dan politis.

Mantan aktivis yang kini menjabat semestinya paham bahwa legitimasi moral tidak cukup diklaim, ia harus dibuktikan melalui kebijakan yang konkret dan berpihak.

Seorang yang lahir dari rahim gerakan rakyat seharusnya tahu bahwa kritik jalanan bukan musuh yang harus dihadapi dengan pembelaan diri—melainkan termostat yang harus dibaca dengan tenang.

Justru ucapan Budiman di atas panggung, "Kalau mau kritik jangan di medsos, langsung saja di sini," yang memantik kekesalan audiens—sebuah undangan terbuka yang kemudian berbuah badai yang tak terkendali.

Ini bukan kegagalan teknis komunikasi; ini adalah kegagalan membaca ruang sosial-politik yang sedang mendidih.

Ada pun sikap balik yang keras dari seorang tokoh sekaliber Budiman Sudjatmiko—bila memang terbukti demikian—adalah bentuk kenaifan demokratis yang tak layak datang dari mantan aktor utama gerakan mahasiswa.

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.
©hak cipta2009-2020 Jaringan Informasi Teknologi Asia    Hubungi kami SiteMap