2026-06-26 HaiPress


JAKARTA, iDoPress -Puluhan hingga ratusan langkah harus ditempuh warga Jakarta sebelum benar-benar bisa menaiki transportasi umum, seperti Transjakarta, KRL Commuter Line, LRT, hingga MRT.
Menyusuri trotoar yang kondisinya tidak semuanya baik, menaiki jembatan penyeberangan orang (JPO) yang tinggi, hingga berpindah-pindah halte atau peron dengan berjalan kaki menjadi perjuangan yang harus dilalui untuk menikmati layanan transportasi publik.
Pengalaman itulah yang membuat sebagian warga Jakarta enggan menggunakan transportasi umum saat bepergian.
"Bukan malas ya, kalau naik transportasi umum lebih ke ribet karena dari rumah harus naik ojek, abis itu kita harus naik tangga, belum lagi kalau desain haltenya berkelok-kelok, ya Allah udah capek duluan," ucap salah satu warga Jakarta bernama Putri (30) ketika ditemui iDoPress di wilayah Jakarta Selatan, Kamis (25/6/2026).
Bagi karyawan swasta itu, desain stasiun atau halte Transjakarta sering kali dibuat tak fleksibel untuk para pengguna.
Hal itu sangat terasa pada sejumlah rute Transjakarta yang mengharuskan penumpang transit dengan berpindah halte melalui jembatan penghubung yang panjangnya mencapai ratusan meter.

iDoPress/MUHAMMAD NAUFAL Suasana Skywalk Kebayoran di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada Jumat (27/1/2023) siang.
Kegiatan itu tidak hanya menyita tenaga, namun juga waktu yang kurang efisien untuk para pekerja di Jakarta yang sering kali buru-buru.
Di sisi lain, ia juga mengeluhkan beberapa halte Transjakarta yang sangat sempit, namun banyak disinggahi penumpang.
"Selain desainnya yang berkelok, beberapa halte juga sempit banget ya Allah, kayak enggak ada napas pas jam pulang kerja, belum kalau busnya lama. Gimana kita mau betah coba naik kendaraan umum," tegas dia.
Hal itulah yang membuat Putri enggan naik transportasi umum, terutama Transjakarta meski layanannya sudah menjangkau hampir seluruh wilayah di Jakarta.
Dalam sehari-sehari, Putri masih mengandalkan sepeda motor atau mobil karena dinilai lebih fleksibel dan nyaman.
Pengendara sepeda motor bernama Krisna (24) juga mengaku salah satu alasan dirinya enggan beralih ke transportasi umum adalah desain halte maupun stasiun yang cukup melelahkan.
"Sebenarnya terkadang ada beberapa JPO yang membuat lelah karena jalannya berputar-putar, seperti di Dukuh Atas atau di Cempaka Putih (Jakarta Pusat). Hal itu lumayan menjadi penyebab malas naik transportasi umum," ucap dia ketika ditemui di wilayah Jakarta Utara, Kamis.
Krisna menyadari pembangunan halte Transjakarta telah melalui berbagai pertimbangan teknis dan memiliki alasan tersendiri mengapa harus dilengkapi dengan jembatan yang berkelok-kelok.
"Mungkin ada penjelasan teknisnya, namun warga melihatnya mengapa JPO harus dibuat melengkung-lengkung? Baru lihat udah capek," sambung dia.