2026-07-30 HaiPress

JAKARTA, iDoPress - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah menyiapkan perubahan sistem pengangkutan sampah rumah tangga.
Melalui skema baru ini, sampah yang telah dipilah akan dijemput langsung dari rumah warga (door-to-door), sehingga masyarakat diminta konsisten melakukan pemilahan sejak dari sumbernya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta Dudi Gardesi Asikin mengatakan, keberhasilan sistem baru tersebut sangat bergantung pada kebiasaan warga dalam memilah sampah dari rumah.
"Harapan saya warga bisa tetap belajar dan konsisten menerapkan pemilahan sampah. Kalau bisa masyarakat tolong tetap menjaga staminanya untuk tetap terus memilah sampah agar darurat sampah ini bisa kita tangani bersama-sama," kata Dudi kepada iDoPress di Laboratorium Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Perubahan sistem pengangkutan sampah itu disiapkan seiring penghentian praktik open dumping di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang mulai berlaku pada 1 Agustus 2026.
Menurut Dudi, pelayanan pengangkutan sampah bagi masyarakat belum akan berubah secara signifikan setelah kebijakan tersebut diterapkan.
Namun, pemerintah akan mulai menyiapkan sistem dan infrastruktur untuk mendukung pengangkutan sampah yang telah dipilah langsung dari rumah warga.
"Sebenarnya 1 Agustus buat masyarakat tetap saja, pengangkutan tetap berjalan. Terkait dengan pola yang sekarang untuk yang sudah memilah, kita minta jangan berubah. Jadi tetap kita utamakan untuk memilah dari rumah. Justru yang pola berubahnya itu adalah yang di kita di pemerintahan," ujarnya.
Dudi menjelaskan, uji coba penjemputan sampah door-to-door ditargetkan dimulai di sejumlah wilayah percontohan pada 2027.
"Nah memang nanti mungkin di 2026 belum signifikan, tapi saya harap di 2027 sudah ada beberapa daerah percontohan yang kita sudah bisa sentuh sampai ke door-to-door gitu, jadi kita bisa jemput sampah yang sudah terpilah," katanya.
Dalam skema tersebut, pengangkutan sampah akan dilakukan berdasarkan jenisnya.
Sampah organik direncanakan diangkut setiap hari, sedangkan sampah daur ulang akan diangkut satu hingga dua kali dalam sepekan.
"Jadi nanti mekanismenya seperti salah satu percontohan di Joglo itu, dia ada pengambilnya sendiri khusus untuk masing-masing jenis sampah," ujar Dudi.
"Jadi untuk sampah organik itu pengambilannya bisa setiap hari, tapi untuk sampah yang lainnya (daur ulang) itu bisa seminggu sekali atau seminggu dua kali diangkutnya," sambungnya.
Transformasi tersebut merupakan bagian dari roadmap pengelolaan sampah Jakarta yang menargetkan seluruh sampah masuk ke dalam sistem pengelolaan pada 2028.
Ke depan, Dinas Lingkungan Hidup tidak lagi hanya berperan sebagai pengangkut sampah, melainkan menjadi pengelola sistem persampahan dari hulu hingga hilir.
Adapun layanan penjemputan sampah nantinya diharapkan dijalankan oleh pihak ketiga yang memiliki kompetensi.
"Nanti di 2028 saya sih berharap itu bisa kita take over semua. Polanya itu nanti kita benar-benar jadi manajer kota. Dalam artian yang bekerja sebagai operator penjemputan itu kita harapkan adalah di pihak-pihak ketiga atau transporter yang memang berkompeten untuk melakukan itu," ucap Dudi.
iDoPress berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung iDoPress Plus sekarang