2026-08-18 HaiPress

JAKARTA, iDoPress - Massa mahasiswa Universitas Indonesia (UI) berkumpul di lapangan Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) di Depok, Jawa Barat, untuk bersiap menggelar aksi unjuk rasa menuju Bundaran HI, Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026).
Para mahasiswa terlihat menyiapkan berbagai poster dan spanduk berisi kritik terhadap pemerintah.
Aksi tersebut digelar sehari setelah Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan RI.
Pantauan iDoPress, ratusan mahasiswa mengenakan almamater berwarna kuning dan merapatkan barisan sebelum bergerak menuju lokasi aksi.
Rencananya, massa akan berangkat menuju Bundaran HI sekitar pukul 12.00 WIB dengan menaiki 50 angkot.
Adapun puluhan angkot tersebut telah terlihat berjejer di lapangan FISIP UI.
"Jadi untuk massa UI sendiri itu sekitar 500 sampai 700 massa," kataKoordinator Lapangan Aksi Merebut Kemerdekaan, Hafidz Haernanda, kepada wartawan saat ditemui di lokasi, Selasa.
Dalam aksi tersebut, massa membawa delapan tuntutan yang akan disampaikan kepada pemerintah.
Hafidz mengatakan salah satu tuntutan utama mahasiswa adalah meminta pemerintah menghentikan apa yang mereka sebut sebagai bentuk penjajahan negara terhadap rakyat.
"Yang pertama adalah hentikan penjajahan negara atas rakyat. Karena kami merasa saat ini, sayangnya, setelah kami dahulu dijajah oleh para penjajah yaitu Belanda, Jepang dan sebagainya, kok kita sekarang merasa masih dijajah oleh pemerintah," kata dia.
Selain itu, mahasiswa mendesak pemerintah segera menurunkan harga bahan pokok dan bahan bakar minyak (BBM).
Persoalan ekonomi bukan satu-satunya yang menjadi sorotan. Mahasiswa juga menyoroti pemusatan kekuasaan.
Mereka meminta pemerintah menghentikan pemusatan kekuasaan, menghentikan Transfer Keuangan Daerah (TKD), serta memberikan otonomi seluas-luasnya kepada daerah.
Hafidz mengeklaim terdapat pandangan dari BEM UI bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berpotensi mengarah pada pemusatan kekuasaan.
"Kami merasa, terutama dari BEM UI punya tesis, bahwa saat ini Prabowo itu ingin menjadi Soeharto, tapi dalam arti yang lebih luas lagi," ujarnya.