2026-08-21 HaiPress

TANGERANG SELATAN, iDoPress - Sepanjang 2026 hingga 15 Agustus, Bea Cukai Banten mencatat ada 707 kali penindakan terhadap barang kena cukai ilegal.
Dari ratusan penindakan tersebut, petugas mengamankan 74,21 juta batang rokok ilegal dan 1.748,85 liter minuman mengandung etil alkohol (MMEA) atau minuman keras ilegal.
Total nilai barang yang diamankan diperkirakan mencapai Rp 143,94 miliar.
Sementara potensi penerimaan negara yang berhasil diselamatkan mencapai Rp 72,15 miliar.
Kepala Kanwil DJBC Banten Ambang Priyonggo mengatakan, angka tersebut menunjukkan besarnya dampak peredaran barang kena cukai ilegal terhadap penerimaan negara.
"Nilai barangnya kita taksir kurang lebih Rp 62 miliar, dengan potensi kerugian negara kalau itu seandainya dia legal membayar cukai dan pajak-pajak itu nilainya Rp 39,9 miliar, hampir Rp 40 miliar," kata Ambang di Kanwil Bea Cukai Banten, Tangerang Selatan, Jumat (21/8/2026).
Angka Rp 62 miliar tersebut merupakan nilai barang ilegal yang dimusnahkan pada Jumat.
Barang tersebut terdiri dari 41.280.402 batang rokok ilegal dan 1.739,1 liter MMEA ilegal.
Barang-barang tersebut merupakan hasil penindakan terpadu Kanwil DJBC Banten bersama dua unit vertikalnya, yakni KPPBC Tipe Madya Pabean Merak dan KPPBC Tipe Madya Pabean A Tangerang.
Ambang mengatakan, penindakan terhadap rokok dan MMEA ilegal dilakukan melalui Operasi "ASAP" atau Amankan Sumber Asal Penerimaan.
Operasi tersebut dilakukan secara terintegrasi dari sisi hulu hingga hilir untuk mencegah barang kena cukai ilegal masuk dan beredar di pasar.
Menurut Ambang, jika barang-barang ilegal tersebut beredar di pasar legal tanpa membayar cukai dan pajak sesuai ketentuan, negara berpotensi kehilangan penerimaan dalam jumlah besar.
"Manfaatnya bukan hanya di sektor fiskal, tetapi kita ingin terus menegakkan iklim ekonomi yang sehat," ujarnya.
Ia menambahkan, penerimaan dari sektor cukai menjadi salah satu sumber yang dibutuhkan untuk memperkuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Sebagaimana kita tahu, dari waktu ke waktu kita membutuhkan dana APBN yang semakin kuat dan besar untuk membiayai program-program pemerintah yang manfaatnya dirasakan bersama," kata Ambang.